Opini : Belajar Adalah Tameng Kebodohan

Oleh : Hamka Pakka (Ketua SEMA STAI DDI Sidrap)

Saat larut malam terkadang aku berfikir tentang fenomena-fenomena sosial yang telah terjadi di lingkungan saya, saat itu saya teringat dengan seorang mahasiswa yang takut mengetahui pengetahuan lain lantaran alasan memperbaiki iman dulu. Saya heran dengannya, alasan tidak mengetahui pengetahuan yang di anggapnya belum layak di ketahui hanya untuk alasan memperbaiki iman, terkadang saya bertanya, apakah benar Allah menbatasi hambanya untuk berilmu, Kalau benar kenapa Allah dalam agama islam menurunkan ayat pertama itu Iqra’ yang artinya bacalah.

Iqra dalam makna katanya yang berarti bacalah, karena dengan membaca ternyata kita bisa berpengetahuan karena pengetahuanlah yang mampu menambah kualitas keyakinan kita, bukankah begitu. Sederhananya ketika saya mendengar di balik tembok ada suara, dan saya meyakini bahwa di balik tembok itu ada orang, tapi ketika saya membuktikan dengan mata dan telinga saya sendiri ternyata di balik tembok itu tidak ada orang, melainkan suara TV lah saya dengar. Apakah saya yang salah atau suara yang ku dengar itu yang salah, Pasti pembaca sepakat ketika dalam perustiwa itu saya yang salah.

Ternyata hanya bermodalkan keyakinan saja tidak bisa di jadikan landasan keimanan, karena bisa saja keyakinan kita itu yang keliru lantaran tidak pernah membuktikan, karena kita meyakini sesuatu apa yang kita dengar dari orang lain, bukan dari kita sendiri yang membuktikannya sehingga hal ini membuat kita menjadi orang yang di perbudak oleh kebodohan, karena takut untuk membuktikan sendiri kebenaran yang kita dengar dari orang lain. Pertanyaan saya kemudian apakah agama kita yakini memerintahkan kita mengikutinya tanpa pengetahuan kita sebelumnya, saya rasa tidak, islam ajaran kebenaran, islam ajaran yang membebaskan kita dari kebodohan, tuhan memberikan kita akal untuk di gunakan berpikir bukan untuk di kekam begitu saja. Ilmu adalah nur atau cahaya yang mampu menerangi kita dalam menuju jalan yang benar, bebaskan diri anda kawanku, lawanlah dirimu yang membuat pandanganmu sempit dalam menilai sesuatu, karena itu adalah berhala yang nyata bagi dirimu.

Kita di anugrahi akal oleh tuhan untuk memikirkan kekuasaannya, jangan mau di doktrin oleh tuhan-tuhan kecil ( manusia ) yang menjual nama tuhan hanya untuk kepentingannya, karena mereka takut jika kita berilmu kita tidak akan menjadi hambanya lagi, sesungguhnya kebenaran dan kebatilan itu sangatlah nyata bagi orang-orang yang berfikir, Allah maha luas jangan di persempit, kenalilah Allah dengan menjelajahi ilmunya, zikirkan akal kita dengan memperkaya wawasan keilmuan kita sehingga bertambahnya kualitas iman kita, singkirkan perbudakan kebodohan karena kebodohan dekat dengan kesesatan.

Islam teologi pembebasan bukan perbudakan, merdekalah berpikir sebelum anda di perbudak oleh kebodohan, lawan penindasan tegakkan kebenaran sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang benar. Sebelum saya menutup tulisan ini, ada sebuah ungkapan dari Rene Decartes : ” COGITO AEGO SUM ” : Aku Berpikir Maka Aku Ada. Bebas berpikir membuat kita menemukan kebenaran. Mohon maaf penulis ucapkan apabila dalam tulisan ini menyinggung perasaan pembaca dan terdapat tutur kata yang tidak etis, karena penulis sadar tulisan ini masi jauh dari nilai kesempurnaan, terimah kasih penulis ucapkan telah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan yang singkat ini, jika ada benarnya datangnya dari sang maha pemilik kebenaran, jika ada kesalahan datangnya penulis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close