MEMBONSAI DDI

Oleh : Mursyid Muh. Harun Hamid
Kader Ikatan Mahasiswa Darud Da’wah Wal-Irsyad (IMDI)

April 1941 di sebuah desa pertanian kecil di Turki seorang bayi lahir, dibesarkan dan dididik dalam lingkungan yang memiliki budaya konservatif yang sebagian besar penduduknya dikenal sebagai orang-orang shaleh.

Fethullah Gulen memulai karier keagamaannya sebagai imam yang memberikan ceramah agama diberbagai tempat. Berbekal kemampuan pemikiran keislaman yang sudah kuat sejak kecil membuat dia dinyatakan lulus tes dan pada tahun 1959 dan resmi memegang lisensi sebagai penceramah negara.

Lisensi yang didapatkannya tersebut mengantarkannya menjadi imam ke dua di Masjid Uc serefli yang berada di Edime.
Gulen kemudian mengembangkan ajakan untuk ber-Hizmet atau gerakan pelayanan maupun pengabdian. Hizmet adalah sebuah konsep menyeluruh yang menunjukkan pelayanan kepada sesama manusia dan berakar dalam keyakinan Islam bahwa setiap individu akan bertanggung jawab atas semua amal yang dilakukannya di dunia ini.

Selain itu, ia juga sangat lekat dengan jalan ke-sufi-an. Kontribusi yang paling signifikan Gulen terhadap literature sufi adalah penekanannya pada aktivisme keagamaan. Pendekatan Gulen terhadap pasivisme, asketisisme dan eksklusif terfokus pada dunia batin di bawah bimbingan syekh dalam banyak karya-karya sufi awal yang ditempatkan kembali dengan purifikasi diri melalui perjuangan dan aksi yang terus menerus dalam komunitas di bawah bimbingan langsung Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Gulen mendapatkan para pengikut yang berawal dari sebuah komunitas masyarakat yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Para pengikut ini yang menjadi cikal bakal terbentuknya Gerakan Gulen yang merupakan sebuah gerakan sosial yang berasaskan pada tiga nilai, yaitu nilai Islam, sufi, dan budaya Turki.

Adapun asal mula terbentuknya gerakan Gulen berawal dari kelompok-kelompok kecil di Izmir yang merupakan murid dari Fethullah Gulen sendiri. Mereka mengumpulkan infaq dari para mahasiwa, pengusaha lokal, dan masyarakat sehingga pada akhir 1969 mereka berhasil mendirikan beberapa Isk evler (rumah cahaya) di Izmir dan kemudian berkembang ke Istanbul. Hal ini membuat kedua kota tersebut menjadi pusat perkembangan gerakan Gulen. Kini, Gulen movement atau gerakan Gulen telah membangun ribuan sekolah, yang tersebar mulai dari Eropa, Amerika, Afrika, Australia, dan Asia. ”Totalnya sudah mencapai lebih dari 165 negara.”

Di lain ruang dan waktu, jauh sebelum gerakan Gulen eksis, tepatnya 41 tahun sebelum Gulen mengusung gerakan pengabdian, di sebuah desa pertanian kecil di Wajo, tahun 1900 Anregurutta Abdurrahman Rahman Ambodalle lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat yang dikenal shaleh.

Sama dan seirama dengan gerakan Gulen, Anregurutta membangun pengabdian diatas dasar triology Pendidikan Da’wah dan Usaha sosial yang menuntut murid-murid dan pengikutnya untuk bekerja ikhlas tanpa pamri atau janji imbalan apapun.

Jika mencermati gerakan pengabdian yang dibangun oleh Anregurutta beserta para guru seperjuangan di masa beliau maka sedikit jelas atmosfer gerakan yang harusnya menjadi jalan pengabdian dalam membesarkan dan mengembangkan lembaga DDI, yaitu serupa dengan jalan membesarkan gerakan Gulen di atas, baik secara historis maupun secara gerakan.
Oleh karena itu, kebijakan ‘’penertiban” keorganisasian yang dilakukan oleh PB DDI dengan menjadikan organisasi ini terpayungi secara kelembagaan dibawah satu payung merupakan kebijakan keliru yang justru mengkerdilkan pohon besar “Hizmet/teologi Pengabdian” DDI yang sejak awal dibangun dengan gagasan dan visi besar oleh para perintis.

Sudah selumrahnya kebijakan strategis dalam pengambilan kebijakan harus meninjau sisi-sisi historis-cultural, karena kebijakan yang a-historis apa lagi yang tuna historis, justru akan membuat mundur Organisasi sebesar DDI.

Saya selaku Kader dari Ikatan Mahasiswa DDI (IMDI), selaku badan otonom dari DDI sendiri merasa kurang sepakat dengan pengkerdilan atau “penertiban” keorganisasian dibawah satu payung yang dilakukan PB DDI Dengaan alasan tersebut. Oleh karena itu saya berharap kepada PB DDI agar kiranya menimbang kembali keputusannya untuk menjadikan DDI terpayu8ngi secara kelembagaan.

Wallahu a’lam bissawab
Minallahil mustaan wa Ilayhi tiqlan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close